Aku sangat menyukai ucapan umi: “Barang milikku yang paling berharga
adalah kamu!” Ucapan yang sangat menyejukkan hati dan sampai sekarang
aku masih mengingatnya terus!
Rhomo Abi dan Umi menikah karena dikenalkan oleh orang tua mereka,yang akhirnya terjadi perjodohan demikianlah yang dialami para muda-mudi di jaman itu, tapi hal ini sudah umum. Di jaman sekarang peristiwa itu sudah jarang terjadi, kebanyakan adalah hasil pilihan sendiri. Tapi umi sangat mencintai Rhomo Abi, demikian juga dengan Rhomo Abi dan mereka tampak selalu mesra, akur bagaikan sejoli yang tak terpisahkan. Sangat sulit dibayangkan bahwa pernikahan mereka pernah diterjang badai!
Badai itu nyaris memisahkan mereka hanya karena emosi sesaat saja! Suatu hari Rhomo Abi kerja lembur hingga pukul 2.00 dinihari dan baru pulang kerumah.
Rhomo Abi sangat letih dan lapar, sampai di rumah tidak ada makanan maupun
minuman yang siap disaji. Rhomo Abi yang lapar minta umi untuk menyiapkan
makanan dan minuman. Beberapa hari belakangan ini emosi umi memang
tidak stabil, siangnya mungkin umi cape gara2 bantuin masak2 dirmh soudara yang lagi hajatan…or lagi “dapet” ? he3…,
Umi spontan menjawab dengan nada keras, “Mau makan dan minum, memangnya tidak
bisa masak sendiri? Apa tidak punya tangan dan kaki lagi, ya?”
Karena Rhomo Abi juga terlalu capek, langsung menjawab dengan acuh tak acuh,
“Kamu ini isteriku, memasak adalah sudah menjadi kewajibanmu!” Umi
langsung merespon, “Tengah malam begini mau masak apa? Sudah lewat
waktunya makan, orang laki seharusnya lebih kuat dari pada perempuan!”
Mendengar itu, marahlah Rhomo Abi, beliau langsung berteriak dengan emosi,
“Kamu salah makan obat apa kemarin? Mau sengaja cari ribut ya? Istri
memasak untuk suami adalah wajar, kenapa harus tergantung pada waktu?
Kamu tidak senang, ya? Kalau tidak senang, kamu pergi saja sekarang dari
rumah ini!!!” Umi tidak menyangka akan menerima reaksi yang begitu keras. Setelah
terdiam sesaat, umi kemudian berkata sambil menitikkan air mata,
“kamu ingin aku pergi, baik aku akan pergi sekarang!” Umi segera kembali
ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya. Melihat Umi masuk kamar
dan berkemas-kemas, Rhomo Abi berkata kepada umi yang membelakanginya,
“Bagus! Pergi sana! Ambil semua barang-barangmu mu dan jangan kembali
lagi!”
Beberapa saat kemudian suasana menjadi sunyi senyap, tak ada kata-kata
kebencian lagi yang muncul, menit demi menit berlalu, tapi umi tetap tak
kunjung keluar dari kamar. Merasakan keanehan itu, Rhomo Abi kemudian
menyusul masuk kamar dan melihat umi sedang duduk diranjang penuh
dengan linangan air mata. Sambil menatap koper kulit besar yang masih
tergeletak di atas ranjang, melihat Rhomo Abi datang, dengan terisak-isak umi
berkata, “duduklah di atas koper kulit itu, supaya aku boleh mengenang
masa-masa perpisahan kita yang terakhir.”
Merasa aneh, maka dengan sendu Rhomo Abi akhirnya tidak tahan juga untuk
tidak bertanya, ” “Untuk apa?” Sambil menangis dengan terputus-putus
umi berkata, “Emas dan perak aku tidak memilikinya, “Tapi milikku yang
paling berharga adalah kamu!” Kamu dan anak-anakku, aku tidak memiliki
apapun….”
Meskipun kejadian itu telah lewat cukup ama, tapi aku masih mengingatnya
terus sampai sekarang. Apalagi ketika umi mengucapkan kata-kata
terakhir itu, Rhomo Abi merasa sangat tergoncang. Sejak malam itu, Rhomo Abipun
sadar dan kembali menghormati dan menyayangi umi. Menggandeng
tangan anak-anak, merangkul umi serta saling berpelukan.
Bagaimanapun kehidupan yang kita jalani dan kita hadapi tidaklah penting.
Namun yang terpenting adalah bagaimana sikap kita dalam menghadapi
peristiwa dan kejadian dalam hidup ini, terutama di saat-saat muncul….
Owwhhh I Love My Abi N Umi….





